riyanto

Kisah Tentang Perjalanan Hidupku

14252_1515463685357651_5488857523615710804_nLahir di sebuah dusun senteran, desa babakan, kecamatan bodeh, kabupaten pemalang,saya anak pertama dari 4 bersaudara, ketika saya masih kecil saya dibawa ke Jakarta, dan saya tumbuh di Jakarta, sampai usia saya 6 tahun saya akhirnya kembali ke kampung halaman untuk sekolah, Ayah dan Ibu masih di Jakarta mencari uang untuk membiayai sekolah saya dan untuk kebutuhan keluarga sehari-hari, dan sayapun menjalani aktifitas seperti anak-anak pada umumnya yaitu sekolah, belajar, dan bermain, ketika berumur 10 tahun Ayah dipanggil oleh sang pencipta, pada waktu itulah, tingkah laku sayapun berubah yang tandinya pemalu, pendiam menjadi brutal dan susah diatur, ketika mulai masuk SMP tingkah laku sayapun semakin brutal dan sampai-sampai gurupun dilawan, 1 (satu) tahun kemudian akhirnya saya berhenti sekolah, dan menjadi anak yang hidupnya lontang-lantung seperti anak yang tidak diurus oleh orang tua, dan pada suatu malam Ibu saya menelpon, beliau berkata kepada saya bahwa beliau seudah capek bekerja lelah, letih, beliau ingin istirahat.

Pada malam itu juga rasa takut yang amat sangat sampai tidak bisa tidur semalaman karena terus memikirkan kata-kata Ibu.

Ketika itulah saya mulai berfikir dan trus berfikir bagaimana caranya saya bisa mendapatkan uang untuk membantu ekonomi Ibu yang saat ini menopang semua biaya adik saya sekolah dan kebutuhan keluarga yang lainya, setelah hilangnya seorang Ayah sebagai kepala keluarga.

Dan akhirnya sayapun mulai belajar mencari uang, dengan bekerja sebagai pencari batu dan pasir di kali. Beberapa bulan kemudian, saya diajak teman saya untuk bekerja sebagai tukan gosok baju di sebuah konveksi baju di Jakarta, selama 1 (satu) tahun, demi membantu ekonomi Ibu walaupun hanya sedikit uang yang aku berikan kepadanya, Ibu sudah bersyukur dan berterimakasih. “Dan ketika itu sku lsgsung memeluk Ibu dan menagis meminta maaf, atas kelakuanku selama ini yang sulit diatur, dan membuat Ibu jengkel, tapi Ibu selalu sabar menghadapi tingkahlakuku yang brutal, sulit diatur itu Bu.” Dan Ibu mengusap air mataku dan berkata. “Iya Ibu sudah memaafkanmu.” Dan Ibu berpesan kepadaku agar tidak menjadi orang yang selalu memandang ke-atas, jika kau selalu memandang ke-atas pasti kau takkan melihat jalan yang sedang kau lalui, apakah jalan itu benar atau salah. Tapi jika kau selalu memandang ke-bawah kau pasti akan melihat dan tahu jalan itu benar atau salah.

Ketika itulah aku selalu menerapkan perkataan itu, ketika aku mulai belajar mandiri lepas dari pengawasan orang tua, perlindungan orang tua.

Bersambung…